Jumat, 20 Januari 2017

KELINCI HIMALAYA

Asal usul kelinci himalayan tidak begitu jelas. Tidak ada catatan pasti yang jelas mendefinisikan asal kelinci ini. Banyak yang percaya bahwa kelinci himalayan berasal dari daerah Pegunungan Himalaya, tetapi tidak ada bukti kuat untuk mendukung klaim tersebut. DIiketahui bahwa kelinci himalayan tiba di Amerika Serikat pada awal 1900-an, yang berasal dari Inggris sekitar waktu yang sama sebagai "Boom Kelinci Belgia". Mereka juga dikenal sebagai salah satu ras tertua dan didistribusikan di seluruh dunia lebih dari jenis lainnya, mereka dikenal dengan nama yang berbeda-beda di seluruh dunia seperti Kelinci russia, Kelinci China, Kelinci Mesir, Kelinci Hidung Hitam.

Kelinci ini banyak dibudidayakan sebagai kelinci peliharaan atau kelinci hias. kalinci ini termasuk dikategorikan sebagai the best pet rabbit karena mudah diatur, lembut, mudah ditangani. 

Ciri-Ciri Umum Kelinci Himalayan adalah :

  • Memiliki ciri khas yang unik pada warna tampilannya, hidung berwarna hitam, badan didominasi warna putih, sementara ke empat kakinya berwarna hitam. Pada mata tampak berwarna merah muda saat beranjak dewasa. Terdapat juga Tipe warna lain yaitu : coklat, hitam, biru dan lylac.
  • Berat badan baik jantan dan betina antara 2,5 - 4,5 Kg. Setelah adanya penyilangan-penyilangan, saat ini banyak yang berukuran mini dengan bobot mencapai 2 Kg. 
  • Tubuhnya ramping dan seperti tabung saat berbaring
Kelinci Himalayan termasuk kelinci yang tergolong rendah produktivitasnya. Tingkat kelahiran anaknya hanya berkisar 3-6 anak dalam sekali melahirkan. Kelinci ini baru bisa dikawinkan pada usia 6 bulan. 

Sumber Artikel

http://www.examiner.com/article/history-of-the-himalayan-rabbit
http://www.cosleyzoo.org/species/himalayan_rabbit
http://www.anneahira.com/kelinci-himalayan.htm

situspeternakan.2013.kelincihimalaya.http://www.situs-peternakan.com/2013/01/ciri-ciri-kelinci-himalayan.html.diakses pada 21 januari 2017

rumput benggala

Rumput Benggala adalah jenis rumput yang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki komposisi nutrisi yang baik. Asal rumput benggala yakni dari Afrika tepatnya di Zimbabwe  yang kemudian diberi nama latin Panicum maximum. Rumput ini dapat tumbuh baik di semua jenis tanah dengan curah hujan lebih dari 760 mm/tahun. Kemampuan produksinya dapat mencapai 60 ton /ha per tahun.

Klasifikasi Rumput Benggala
  • Phyllum : Spermatophyta
  • Sub Phyllum : Angiospermae
  • Classis : Monocotyledoneae
  • Ordo : Glumiflora
  • Famili : Gramineae
  • Sub Famili : Panicurdeae
  • Genus : Panicum
  • Species : P. maximum

Ciri-Ciri Rumput Benggala
  • Berasal dari bibit unggul
  • Tumbuh tegak dengan cara berumpun dan bertunas atau rhizoma
  • Perakaran kuat dan dalam
  • Batang mencapai ketinggi 1,8 meter dan berdiameter sekitar 2,5 mm
  • Batang beronggo halus sehingga terasa lunak jika dipegang dan tidak berbulu
  • Daun lebat dan berwarna hijaun
  • Terdapat bunga berbentuk pita dan malai panjang 20-45 cm tegak, serta bercabang-cabang.  
Sebagai hijauan makan ternak rumput tidak kalah bagusnya dengan rumput gajah maupun rumput raja yang saat ini banyak dibudidayakan. Melalui Balitnak mencoba mengintroduksi rumput unggul dengan kemampuan produksi dan kualitas setara rumput gajah. 


Berikut adalah tabel kandungan nutrisi rumput benggala

Nama
BK (%)
PK (%)
SK (%)
LK (%)
Abu (%)
BETN (%)
P (%)
Rumput Benggala

18,37
27,40
3,81
3,81
37,34


Sumber data : bumiternak-betha.blogspot.com

sumber :
situspeternakan.2014.rumput benggala.http://www.situs-peternakan.com/2014/12/rumput-benggala.html.diakses pada 21 januari 2017

KONSENTRAT

Konsentratadalah bahan makanan yang memiliki kadar protein dan karbohidrat yang tinggi dan rendah kadar serat kasarnya di  bawah 18 %. Fungsi utama konsentrat bagi ternak adalah untuk meningkatkan mutu gizi dari beragam bahan makanan yang dijadikan satu atau dicampur, konsumsi pakan lebih baik, mempercepat pertumbuhan pada ternak usia muda.

Konsentrat sebagai bahan penguat  sangat bagus sekali bagi ternak sebab mudah dicerna dengan baik. Karena terbuat dari beragam campuran bahan pakan yang berasal dari bahan-bahan pakan yang banyak kandungan sumber energi, protein, vitamin, dan mineral.

Sumber-Sumber Bahan Pakan Konsentrat

Konsentrat pakan ternak dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu konsentrat sebagai sumber protein dan konsentrat sebagai sumber energi. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energy apabila mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar 18%, sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20% (Tillman et al.,1991).

Sumber bahan pakan konsentrat berdasarkan asalnya dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

Bahan pakan konsentrat berasal dari tanaman

Sebagai bahan energi dan protein yang tinggi, tanaman dapat dijadikan bahan konsentrat yang umum digunakan. Sebagai sumber energi dapat diperoleh dari biji-bijian, sorghum, jagung. Sebagai sumber protein dapat diperoleh dari kacang giling, kedelai, wijen, biji kapas, biji karet.

Bahan pakan konsentrat berasal dari hewan

Bahan pakannya meliputi tepung tulang, tepung darah, tepung daging. Hasil samping pengolahan ikan seperti tepung ikan. Kandungan bahan pakan asal hewani proteinnya berkualitas tinggi dan kandungan mineral tinggi.

Pemberian Konsentrat Pakan Pada Ternak

Pemberian konsentrat pakan pada ternak antara ternak ruminansia dan ternak unggas berbeda-beda. Ternak ruminansia pemberian konsentrat dilakukan sebelum memberikan pakan kasar berupa hijauan makanan ternak. Hal ini dimaksudkan agar mikrobia yang ada dalam rumen telah berkembang biak secara optimal sehingga diharapkan mampu mengkonversi pakan kasar berupa hijauan dapat dicerna secara sempurna dengan kata lain mikroba dapat berkembang biak terlebih dahulu, sehingga dapat mencerna pakan hijauan dengan baik. Rentang waktu setelah pemberian pakan konsentrat minimal 2 jam baru ternak ruminansia diberi pakan hijauan. Sedangkan pada ternak unggas seperti ayam, dan bebek pemberian pakan konsentrat  biasanya hanya difokuskan pada DOC atau DOD umur 1-7 hari supaya pertumbuhannya cepat. Karena pada DOC dan DOD membutuhkan asupan nutrisi yang tinggi agar dapat tumbuh dengan optimal. 

Sumber Referensi 

- http://rumputhejo.com/manfaat-konsentrat-bagi-sapi-potong.html
- http://www.ilmupeternakan.com/2009/03/konsentrat.html



SUMBER : 
situspeternakan.2014.konsentrat.http://www.situs-peternakan.com/2014/11/konsentrat-sebagai-pakan-ternak.html#more.diakses pada 21 januari 2017

RUMPUT GAMBA

Rumput Gamba (Andropogon gayanusmerupakan salah satu jenis hijauan makanan ternak (HMT) yang berasal dari Afrika. Rumput ini sangat disukai oleh ternak ruminansia ketika masih muda. Sangat cocok dijadikan sebagai tanaman pada lahan pengembalaan karena teksturnya yang tahan terhadap renggutan. Selain itu juga bisa dijadikan sebagai rumput potong, namun pemotongan rumput harus teratur, agar tidak terbentuk tangkai biji yang keras dan akibatnya rumput tidak disukai oleh ternak. Pemotongan mulai dilakukan setelah berumur 6 bulan.

Rumput ini sebenarnya mudah tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi antara 0 – 2000 m dpl. Tingkat curah hujan berkisar 600 – 2500 mm per tahun. Namun lebih baik jika ditanam pada lahan kering (lahan sub-optimal) sebab tidak tahan terhadap genangan air.  

Taksonomi atau Klasifikasi Rumput Gamba (Andropogon gayanus)

Kingdom
: Plantae
Division
: Magnoliophyta
Class
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Famili
: Panicoideae
Genus
: Andropogon
Spesies
: A. gayanus

Ciri-Ciri Rumput Gamba : 
  • Penananam sistem pols (anakan) 
  • Cepat tumbuh kembali setelah berakar (tumbuh tegak dan tinggi) 
  • Daun lembut dan berbulu halus 
  • Tangkai biji panjang mencapai 4 cm 
  •  Biji ringan dan berbulu 
Kandungan Nutrisi Rumput Gamba 

Rumput ini ketika masih berumur muda cukup disukai oleh ternak terutama kerbau . Nilai kecernaannya akan meningkat 63% saat musim penghujan namun akan turun saat memasuki musim kemarau yakni 30-40%. Jika sudah berumur yakni setelah berbunga maka kandungan nutrisinya akan berkurang. Sejauh ini belum kami temukan berapa kandungan nutrisi dari rumput gamba ini. Namun dari beberapa sumber yang admin baca untuk proteinnya sangat rendah sekali hanya 1,5 persen saja dan kandungan serat kasarnya cukup tinggi.


sumber : situs peternakan tim.2015.rumput gamba.http://www.situs-peternakan.com/2015/04/rumput-gamba-andropogon-gayanus.html.diaksespada 21 januari 2017

DAMPAK PENAMBANGAN BATU BARA TERHADAP LINGKUNGAN

Abstrak
 Aktifitas pertambangan dianggap seperti uang logam yang memiliki dua sisi yang saling berlawanan, yaitu sebagai sumber kemakmuran sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial. Sebagai sumber kemakmuran, sektor ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun. Sebagai perusak lingkungan, pertambangan terbuka (open pit mining) dapat mengubah secara total baik iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan tambang disingkirkan. Hilangnya vegetasi secara tidak langsung ikut menghilangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air, pengendalian erosi, banjir, penyerap karbon, pemasok oksigen dan pengatur suhu. Selain itu penambangan batu bara juga bisa mengakibatkan perubahan social ekonomi masyarakat disekitar kawasan penambangan. Upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pertambangan batu bara perlu dilakukan  tindakan-tindakan tertentu sehingga akan dapat mengurangi pencemaran akibat aktivitas pertambangan batubara dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang telah terjadi di sekitar pertambangan.
Kata kunci Penambangan batubara, dampak, upaya pencegahan
Pendahuluan
Batubara merupakan salah satu bahan galian strategis yang sekaligus menjadi sumber daya energy yang sangat besar. Indonesia pada tahun 2006 mampu memproduksi batu bara sebesar 162 juta ton dan 120 juta ton diantaranya diekspor. Sementara itu sekitar 29 juta ton diekspor ke Jepang. indonesia memiliki cadangan batubara yang tersebar di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan dalam jumlah kecil, batu bara berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua dan Sulawesi. Sedangkan rumus empirik batubara untuk jenis bituminous adalah C137H97O9NS, sedangkan untuk antrasit adalah C240H90O4NS.
Indonesia memiliki cadangan batu bara yang sangat besar dan menduduki posisi ke-4 di dunia sebagai negara pengekspor batubara. Di masa yang akan datang batubara menjadi salah satu sumber energi alternatif potensial untuk menggantikan potensi minyak dan gas bumi yang semakin menipis. Pengembangan pengusahaan pertambangan batubara secara ekonomis telah mendatangkan hasil yang cukup besar, baik sebagai pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun sebagai sumber devisa.
Bersamaan dengan itu, eksploitasi besar-besaran terhadap batubara secara ekologis sangat memprihatinkan karena menimbulkan dampak yang mengancam kelestarian fungsi lingkungan hidup dan menghambat terselenggaranya sustainable eco-development. Untuk memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup, maka kebijakan hukum pidana sebagai penunjang ditaatinya norma-norma hukum administrasi ladministrative penal law) merupakan salah satu kebijakan yang perlu mendapat perhatian, karena pada tataran implementasinya sangat tergantung pada hukum administrasi. Diskresi luas yang dimiliki pejabat administratif serta pemahaman sempit terhadap fungsi hukum pidana sebagai ultimum remedium dalam penanggulangan pencemaran dardatau perusakan lingkungan hidup, seringkali menjadi kendala dalam penegakan norma-norma hukum lingkungan. Akibatnya, ketidaksinkronan berbagai peraturan perundang-undangan yang disebabkan tumpang tindih kepentingan antar sektor mewarnai berbagai kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Bertitik tolak dari kondisi di atas, maka selain urgennya sinkronisasi kebijakan hukum pidana, diperlukan pula pemberdayaan upaya-upaya lain untuk mengatasi kelemahan penggunaan sarana hukum pidana, dalam rangka memberikan perlindungan terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup dan korban yang timbul akibat degradasi fungsi lingkungan hidup.
Tulisan ini berusaha menggambarkan bagaimana metode penambangan, kerusakan yang diakibatkan dan solusi mengatasi kerusakan lingkungan pasca penambangan.
Jenis Batu Bara
Jenis dan kualitas batubara tergantung pada tekanan, panas dan waktu terbentuknya batubara. Berdasarkan hal tersebut, maka batubara dapat dikelompokkan menjadi 5 jenis batubara, diantaranya adalah antrasit, bituminus, sub bituminus, lignit dan gambut (Puslibang Kementrian ESDM, 2006)
  1. Antrasit merupakan jenis batubara dengan kualitas terbaik, batubara jenis ini mempunyai ciri-ciri warna hitam metalik, mengandung unsur karbon antara 86%-98% dan mempunyai kandungan air kurang dari 8%.
  2. Bituminus merupakan batubara dengan kualitas kedua, batubara jenis ini mempunyai kandungan karbon 68%-86% serta kadar air antara 8%-10%. Batubara jenis ini banyak dijumpai di Australia.
  3. Sub Bituminus merupakan jenis batubara dengan kualitas ketiga, batubara ini mempunyai ciri kandungan karbonnya sedikit dan mengandung banyak air.
  4. Lignit merupupakan batubara dengan kwalitas keempat, batubara jenis ini mempunyai cirri memiliki warna muda coklat, sangat lunak dan memiliki kadar air 35%-75%.
  5. Gambut merupakan jenis batubara dengan kwalitas terendah, batubara ini memiliki ciri berpori dan kadar air diatas 75%.
 Metode Penambangan Batubara
Kegiatan  pertambangan  batubara  merupakan  kegiatan  eksploitasi sumberdaya  alam  yang  tidak  dapat  diperbaharui  dan  umumnya  membutuhkan investasi  yang  besar  terutama  untuk  membangun  fasilitas  infrastruktur.
Karakteristik yang penting dalam pertambangan batubara  ini adalah bahwa pasar dan harga  sumberdaya  batubara  ini  yang  sangat  prospektif  menyebabkan industri pertambangan batubara dioperasikan pada tingkat resiko yang tinggi baik dari  segi  aspek  fisik,  perdagangan,  sosial  ekonomi  maupun  aspek  politik.
Kegiatan  penambangan  batubara  dapat  dilakukan  dengan  menggunakan  dua metode yaitu (Sitorus, 2000)  :
  1. Penambangan permukaan  (surface/  shallow  mining) ,  meliputi  tambang terbuka penambangan dalam jalur dan penambangan hidrolik.
  2. Penambangan dalam (subsurfarcel deep mining).
Kegiatan  penambangan  terbuka  (open  mining)  dapat  mengakibatkan gangguan seperti
  1. Menimbulkan lubang besar pada tanah.
  2. Penurunan muka  tanah  atau  terbentuknya  cekungan  pada  sisa  bahan galian  yang dikembalikan ke dalam lubang galian.
  3. Bahan galian tambang apabila di tumpuk atau disimpan pada stock fliling dapat mengakibatkan bahaya longsor dan senyawa beracun dapat tercuci ke daerah hilir.
  4. Mengganggu proses penanaman kembali reklamasi pada galian  tambang yang  ditutupi  kembali  atau  yang  ditelantarkan  terutama  bila  terdapat bahan  beracun,  kurang  bahan  organiklhumus  atau  unsur  hara  telah tercuci .
Sistem  penambangan  batubara  yang  sering diterapkan  oleh  perusahaan-perusahaan  yang  beroperasi  adalah  sistem tambang  terbuka  (Open  Cut  Mining) .  Penambangan  batubara  dengan  sistem tambang  terbuka  dilakukan  dengan  membuat  jenjang  (Bench)  sehingga terbentuk  lokasi  penambangan  yang  sesuai  dengan  kebutuhan  penambangan.
Metode  penggalian  dilakukan  dengan  cara  membuat  jenjang  serta  membuang dan  menimbun  kembali  lapisan  penutup  dengan  cara  back  filling  per  blok penambangan  serta  menyesuaikan  kondisi  penyebaran  deposit  sumberdaya mineral,  (Suhala Et, al.,,  1995).
Sedangkan pertambangan skala besar, tailing yang dihasilkan lebih banyak lagi. Pelaku tambang selalu mengincar bahan tambang yang tersimpan jauh di dalam tanah, karena jumlahnya lebih banyak dan memiliki kualitas lebih baik. Untuk mencapai wilayah konsentrasi mineral di dalam tanah, perusahaan tambang melakukan penggalian dimulai dengan mengupas tanah bagian atas (top soil). Top Soil kemudian disimpan di suatu tempat agar bisa digunakan lagi untuk penghijauan setelah penambangan. Tahapan selanjutnya adalah menggali batuan yang mengandung mineral tertentu, untuk selanjutnya dibawa ke processing plant dan diolah. Pada saat pemrosesan inilah tailing dihasilkan. Sebagai limbah sisa batuan dalam tanah, tailing pasti memiliki kandungan logam lain ketika dibuang.
Kegiatan penambangan apabila dilakukan di kawasan hutan dapat merusak ekosistem hutan. Apabila tidak dikelola dengan baik, penambangan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan secara keseluruhan dalam bentuk pencemaran air, tanah dan udara.
Pengangkutan Batu Bara
Cara pengangkutan batu bara ke tempat batu bara tersebut akan digunakan tergantung pada jaraknya. Untuk jarak dekat, batu bara umumnya diangkut dengan menggunakan ban berjalan atau truk. Untuk jarak yang lebih jauh di dalam pasar dalam negeri, batu bara diangkut dengan menggunakan kereta api atau tongkang atau dengan alternatif lain dimana batu bara dicampur dengan air untuk membentuk bubur batu dan diangkut melalui jaringan pipa.
Kapal laut umumnya digunakan untuk pengakutan internasional dalam ukuran berkisar dari Handymax (40-60,000 DWT), Panamax (about 60-80,000 DWT) sampai kapal berukuran Capesize (sekitar 80,000+ DWT). Sekitar 700 juta ton (Jt) batu bara diperdagangkan secara internasional pada tahun 2003 dan sekitar 90% dari jumlah tersebut diangkut melalui laut.
Pengangkutan batu bara dapat sangat mahal – dalam beberapa kasus, pengangkutan batu bara mencapai lebih dari 70% dari biaya pengiriman batu bara. Tindakan-tindakan pengamanan diambil di setiap tahapan pengangkutan dan penyimpan batu bara untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup.
Dampak Penambangan Batubara
Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan kondisi tata lingkungan (tanah, udara dan air) yang tidak menguntungkan (merusak dan merugikan kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan) yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah, limbah industri, minyak, logam berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti semula (Susilo, 2003).
  1. Dampak Terhadap  Lingkungan
Setiap kegiatan penambangan baik itu penambangan Batu bara, Nikel dan Marmer serta lainnya pasti menimbulkan dampak positif dan negatif bagi lingkungan sekitarnya.    Dampak positifnya adalah meningkatnya devisa negaradan pendapatan asli daerah serta menampung tenaga kerja sedangkan dampak negatif dari kegiatan penambangan dapat dikelompokan dalam bentuk kerusakan permukaan bumi, ampas buangan (tailing), kebisingan, polusi udara, menurunnya permukaan bumi (land subsidence), dan kerusakan karena transportasi alat dan pengangut berat.
Karena begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penambangan maka perlu kesadaran kita terhadap lingkungan sehingga dapat memenuhi standar lingkungan agar dapat diterima pasar. Apalagi kebanyakan komoditi hasil tambang biasanya dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga harus hati-hati dalam pengelolaannya karena bila para pemakai mengetahui bahan mentah yang dibeli mencemari lingkungan, maka dapat dirasakan tamparannya terhadap industri penambangan kita.
Sementara itu, harus diketahui pula bahwa pengelolaan sumber daya alam hasil penambangan adalah untuk kemakmuran rakyat. Salah satu caranya adalah dengan pengembangan wilayah atau community development. Perusahaan pertambangan wajib ikut mengembangkan wilayah sekitar lokasi tambang termasuk yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Karena hasil tambang suatu saat akan habis maka penglolaan kegiatan penambangan sangat penting dan tidak boleh terjadi kesalahan.
Seperti halnya aktifitas pertambangan lain di Indonesia, Pertambangan batubara juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup besar, baik itu air, tanah, Udara, dan hutan, Air . Penambangan Batubara secara langsung menyebabkan pencemaran antara lain ;
  1. Pencemaran air, 
Permukaan batubara yang mengandung pirit (besi sulfide) berinteraksi dengan air menghasilkan Asam sulfat yang tinggi sehingga terbunuhnya ikan-ikan di sungai, tumbuhan, dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang drastis.
Batubara yang mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan mengakibatkan kontaminasi radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini terkandung dalam konsentrasi rendah, namun akan memberi dampak signifikan jika dibung ke lingkungan dalam jumlah yang besar. Emisi merkuri ke lingkungan terkonsentrasi karena terus menerus berpindah melalui rantai makan dan dikonversi menjadi metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan membahayakan manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang terkontaminasi merkuri.
  1. Pencemaran udara
Polusi/pencemaran udara yang kronis sangat berbahaya bagi kesehatan.  Menurut logika udara kotor pasti mempengaruhi kerja paru-paru. Peranan  polutan ikut andil dalam merangsang penyakit pernafasan seperti influensa,bronchitis dan pneumonia serta penyakit kronis seperti asma dan bronchitis kronis.
  1. Pencemaran Tanah
Penambangan batubara dapat merusak vegetasi yang ada, menghancurkan profil tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic, menghancurkan satwa liar dan habitatnya, degradasi kualitas udara, mengubah pemanfaatan lahan dan hingga pada batas tertentu dapat megubah topografi umum daerah penambangan secara permanen.
Disamping itu, penambangan batubara juga menghasilkan gas metana, gas ini mempunyai potensi sebagi gas rumah kaca. Kontribusi gas metana yang  diakibatkan oleh aktivitas manusia, memberikan kontribusi sebesar 10,5% pada emisi gas rumah kaca.
Aktivitas  pertambangan  batubara  juga  berdampak  terhadap  peningkatan laju  erosi  tanah  dan  sedimentasi  pada  sempadan  dan  muara-muara  sungai.
Kejadian  erosi  merupakan  dampak  tidak  langsung  dari  aktivitas  pertambangan batubara melainkan dampak dari pembersihan  lahan untuk bukaan  tambang dan pembangunan  fasilitas  tambang  lainnya  seperti  pembangunan  sarana  dan prasarana  pendukung  seperti  perkantoran,  permukiman  karyawan,Dampak  penurunan  kesuburan  tanah  oleh  aktivitas  pertambangan batubara  terjadi  pada  kegiatan  pengupasan  tanah  pucuk  (top  soil)  dan  tanah penutup  (sub  soil/overburden).  Pengupasan  tanah  pucuk  dan  tanah  penutup akan merubah  sifat-sifat  tanah  terutama  sifat  fisik  tanah  dimana  susunan  tanah yang  terbentuk  secara  alamiah  dengan  lapisan-lapisan  yang  tertata  rapi  dari lapisan  atas  ke  lapisan  bawah  akan  terganggu  dan  terbongkar  akibat pengupasan  tanah  tersebut.
  1. Dampak Terhadap manusia
Dampak pencemaran Pencemaran akibat penambangan batubara terhadap manusia, munculnya berbagai penyakit antara lain :
  1. Limbah pencucian batubara zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan       manusia jika airnya dikonsumsi  dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit. Kaarena Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4),  di samping itu debu batubara menyebabkan polusi udara di sepanjang jalan yang dijadikan aktivitas pengangkutan batubara. Hal ini menimbulkan merebaknya penyakit infeksi saluran pernafasan, yang dapat memberi efek jangka panjang berupa kanker paru-paru, darah atau lambung. Bahkan disinyalir dapat menyebabkan kelahiran bayi cacat.
  2. Antaranya dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan dan masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh proses penambangan dan penggunaannya. Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di lingkungan.
  3. Seperti halnya aktifitas pertambangan lain di Indonesia, Pertambangan batubara juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah, baik itu air, tanah, Udara, dan hutan, Air Penambangan Batubara secaralangsung menyebabkan pencemaran air, yaitu dari limbah penducian batubara tersebut dalam hal memisahkan batubara dengan sulfur. Limbah pencucian tersebut mencemari air sungai sehingga warna air sungai menjadi keruh, Asam, dan menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan pencucian batubara tersebut. Limbah pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit.

  1. Dampak Sosial dan kemasyarakatan

  1. Terganggunya Arus Jalan Umum
Banyaknya lalu lalang kendaraan yang digunakan untuk angkutan batubara berdampak pada aktivitas pengguna jalan lain. Semakin banyaknya kecelakaan, meningkatnya biaya pemeliharaan jembatan dan jalan, adalah sebagian dari dampak yang ditimbulkan.
  1. Konflik Lahan Hingga Pergeseran Sosial-Budaya Masyarakat
Konflik lahan kerap terjadi antara perusahaan dengan masyarakat lokal yang lahannya menjadi obyek penggusuran. Kerap perusahaan menunjukkan kearogansiannya dengan menggusur lahan tanpa melewati persetujuan pemilik atau pengguna lahan. Atau tak jarang mereka memberikan ganti rugi yang tidak seimbang denga hasil yang akan mereka dapatkan nantinya. Tidak hanya konflik lahan, permasalahan yang juga sering terjadi adalah diskriminasi. Akibat dari pergeseran ini membuat pola kehidupan mereka berubah menjadi lebih konsumtif. Bahkan kerusakan moral pun dapat terjadi akibat adanya pola hidup yang berubah.
Nilai atau dampak positif dari batubara itu sendiri, Sumber wikipedia.com mengatakan Tidak dapat di pungkiri bahwa batubara adalah salah satu bahan tambang yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Indonesia adalah salah satu negara penghasil batubara terbesar no.2 setelah Australia hingga tahun 2008. Total sumber daya batubara yang dimiliki Indonesia mencapai 104.940 Milyar Ton dengan total cadangan sebesar 21.13 Milyar Ton. Nanun hal ini tetap memberikan efek positif dan negatif, dan hal positifnya Sumber wikipedia.com mengatakan. Hal positifnya adalah bertambahnya devisa negara dari kegiatan penambanganya.
Secara teoritis usaha pertambangan ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Para pekerja tambang selayaknya bekerja sama dengan masyarakat sekitar. Salah satu bentuknya dengan cara memperkerjakan masyarakat sekitar dalam usaha tambang sekitar, sehingga membantu kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.

Solusi Terhadap Dampak  Dan Pengaruh Pertambanga Batubara
Tidak dapat di pungkiri bahwa pemerintah mempunyai peran yang penting dalam mencari solusi terhadap dampak dan pengaruh pertambangan    batu bara yang ada di indonesia. Pemerintah harus menyadari bahwa tugas mereka adalah memastikan masa depan yang dimotori oleh energi bersih dan terbarukan. Dengan cara ini, kerusakan pada manusia dan kehidupan sosialnya serta kerusakan ekologi dan dampak buruk perubahan iklim dapat dihindari.
Sayangnya, Pemerintah Indonesia ingin percaya bahwa batubara jawaban dari permintaan energi yang menjulang, serta tidak bersedia mengakui potensi luar biasa dari energi terbarukan yang sumbernya melimpah di negeri ini.
Upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap dampak yang    ditimbulkan oleh penambang batu bara dapat ditempuh dengan beberapa pendekatan, untuk dilakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai berikut :
  1. Pendekatan teknologi, dengan orientasi teknologi preventif (control/protective) yaitu pengembangan sarana jalan/jalur khusus untuk pengangkutan batu bara sehingga akan mengurangi keruwetan masalah transportasi. Pejalan kaki (pedestrian) akan terhindar dari ruang udara yang kotor. Menggunakan masker debu (dust masker) agar meminimalkan risiko terpapar/terekspose oleh debu batu bara (coal dust).
  2. Pendekatan lingkungan yang ditujukan bagi penataan lingkungan sehingga akan terhindar dari kerugian yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan. Upaya reklamasi dan penghijauan kembali bekas penambangan batu bara dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk malaria. Dikhawatirkan bekas lubang/kawah batu bara dapat menjadi tempat perindukan nyamuk (breeding place).
  3. Pendekatan administratif yang mengikat semua pihak dalam kegiatan pengusahaan penambangan batu bara tersebut untuk mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku (law enforcement)
  4. Pendekatan edukatif, kepada masyarakat yang dilakukan serta dikembangkan untuk membina dan memberikan penyuluhan/penerangan terus menerus memotivasi perubahan perilaku dan membangkitkan kesadaran untuk ikut memelihara kelestarian lingkungan.

Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih atas terselesaikanya penulisan artikel ini  disampaikan  kepada dosen pengasuh Mata Kuliah Penyajian Ilmiah  Bapak Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, M.Sc, yang telah memberikan arahan, petunjuk dan materi dasar untuk membuat tulisan ini. Semoga Allah, SWT, membalas semua kebaikan Bapak.




Daftar Pustaka

Agus, F. 2004. Pengelolaan DTA Danau dan Dampak Hidrologisnya. Balai Penelitian Tanah. Bogor.  http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/56/pdf [16 Juni 2006].

Agus F, Farida, Noordwijk Van Meine, editor. 2004. Hydrological Impacts of Forest, Agroforestry and Upland Cropping as a Basis for Rewarding Environmental Service Providers in Indonesia. Proceedings of a workshop in Padang/Singkarak, Weat Sumatra, Indonesia, 25-28 February 2004. ICRAF-SEA. Bogor

Latifa, S.  2000. Keragaan  Accacia mangium wild  pada  Lahan  Bekas  Tambang Timah            (Studi  kasus  di  areal  PT.  Timah).  Tesis  Sekolah  Pascasarjana.IPB. Boger.

Pusat  Penelitian  ttan  Pengembangan  (Puslitbang)  Teknologi  Mineral  dan Batubara.   Departemen  ESDM.  2006.  Batubara  Indonesia.  Departemen ESDM. Jakarta.

Sitorus.  S.R.P.  2000.  Pengembangan  Sumberdaya  Tanah  Berkelanjutan. Jurusan Tanah.Fakultas pertanian  lnstitut Pertanian Bogor (IPB). Boger.

Soemarwoto,  0 .  2005. Analisis  Mengenai  Dampak  Lingkungan. Gadjah  Mada Uversity    Press. Yogyakarta.
Suhala,  S,  A.  F.  Yoesoef  dan  Muta’alim.  1995.  Teknologi  Pertambangan Indonesia.  Pusat  Penelitlan  dan  Pengembangan  Teknologi  Mineral,Direktorat  Jenderal  Pertambangan  Umum  Departemen  Pertambangan dan Energi. Jakarta.

Wardana.  W.  A.  2001 .  Dampak  Pencemaran  Lingkungan.  Penerbit  Andi Yogyakarta.Yogyakarta.


sumber : Yusnita Erni.2016.dampak penambangan batu bara bagi lingkungan.https://uwityangyoyo.wordpress.com/2016/02/06/dampak-penambangan-batu-bara-terhadap-lingkungan/.diakses pada 21 januari 2017

PERTANIAN ORGANIK SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

ABSTRAK
Meningkatnya kegiatan produksi biomassa yang memanfaatkan tanah yang tak terkendali mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa, sehingga menurunkan mutu serta fungsi tanah yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan dapat disebabkan karena penggunaan agrokimia (pupuk dan pestisida) yang tidak proporsional. Dampak negatif dari penggunaan agrokimia antara lain berupa pencemaran air, tanah, kesehatan petani, menurunnya keanekaragaman hayati. Untuk itu solusi alternatif adalah  pertanian ramah lingkungan dengan menerapkan pertanian organik dalam pembangunan pertanian.  Makalah ini bertujuan untuk membahas mengenai visi pembangunan pertanian ke depan dan masalah dan tantangannya. Di dalam makalah ini juga akan dibahas keunggulan dan kelemahan pertanian organik. Diharapkan dengan adanya penjelasan ini maka akan timbul kesadaran pada diri kita semua bahwa pertanian organik merupakan pertanian masa depan sebagai usaha manusia menjaga kesehatan tubuh dan kelestarian alam dan lingkungan akan didapat sumber air yang aman untuk kita konsumsi. Data yang dikumpulkan dalam penulisan karya tulis ini adalah dengan menggunakan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari beberapa literatur ilmiah. Konsep pertanian berkelanjutan sebagai respon terhadap strategi pembangunan sebelumnya yang terfokus pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi yang terbukti telah menimbulkan degradasi kapasitas produksi maupun kualitas lingkungan hidup. Masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pertanian berkelanjutan adalah membangun pemerintahan yang baik dan memposisikan pertanian sebagai sektor andalan perekonomian nasional, mewujudkan kemandirian pangan dalam tatanan perdagangan dunia yang bebas dan tidak adil, mengurangi jumlah petani miskin, membangun basis bagi partisipasi petani, dan pemerataan hasil pembangunan, meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian, membangunan sistem agribisnis terkoordinatif, melestarikan sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup, membangun sistem iptek yang efisien. Keunggulan dan keuntungan dari penerapan pertanian organik, adalah lebih mendukung usahatani yang berkelanjutan, penggunaan input luar yang rendah, perubahan pola konsumsi manusia, menghasilkan produk makanan yang sehat, adanya dukungan dri lembaga pemerintah dan swasta, ramah lingkungan. Sedangkan kendala atau permasalahan dalam pengembangan pertanian organik adalah:  rendahnya kualitas sumber daya manusia, lahan pertanian yang dimiliki relatif sempit, kebiasaan petani dalam menggunakan pestisida dan pupuk kikmia, belum ada jaminan pasar atau harga khusus untuk produk organik.
Kata kunci: kerusakan lingkungan, pertanian organik.pembangunan pertanian

Pendahuluan
Pembangunan pertanian bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia :
Pangan, sandang, papan dan lingkungan sehat melalui pengelolaan produktif sumber daya alam, sumberdaya kultural, sumber daya kapital dan teknologi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut pembagunan pertanian akan mengalami perubahan dan penyesuaian yang cukup besar dan mendasar. Dibalik keberhasilan dengan kenaikan PDB perkapita dan pembangunan fisik, sisi negatifnya tampak dominan jika dilihat masih rendahnya tingkat pendapatan riil petani, lambatnya pertumbuhan aktivitas ekonomi berbasis pertanian pedesaan dan kesenjangan produktivitas tenaga kerja earning capacity sektor pertanian dibandingkan dengan sektor lain (Seta, AK, 2001).
Salah satu masalah yang dihadapi oleh para petani di negara yang sedang berkembang adalah usahatani mereka semakin tergantung pada teknologi pertanian modern yang tidak ramah lingkungan (Soetrisno, 1998).
Meningkatnya kegiatan produksi biomassa (tanaman yang dihasilkan kegiatan pertanian, perkebunan dan hutan tanaman) yang memanfaatkan tanah yang tak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa, sehingga menurunkan mutu serta fungsi tanah yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya (Diperta, 2012).
Beberapa indikator yang memprihatinkan hasil evaluasi perkembangan kegiatan pertanian hingga saat ini, yaitu : (1) tingkat produktivitas lahan menurun, (2) tingkat kesuburan lahan merosot, (3) konversi lahan pertanian semakin meningkat, (4) luas dan kualitas lahan kritis semakin meluas, (5) tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan pertanian meningkat, (6) daya dukung lingkungan merosot, (7) tingkat pengangguran di pedesaan meningkat, (8) daya tukar petani berkurang, (9) penghasilan dan kesejahteraan keluarga petani menurun, (10) kesenjangan antar kelompok masyarakat meningkat (Diperta, 2012).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, belakangan muncul trend pertanian organik yaitu kegiatan budidaya tanaman yang akrab lingkungan dengan berusaha meminimalisir dampak negatif bagi alam sekitar. Pertanian organik dicirikan dengan tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia sehingga hasil panennya bebas residu kimia berbahaya. Pertanian organik merupakan pertanian masa depan sebagai usaha manusia menjaga kesehatan tubuh dan kelestarian alam dan lingkungan (Yusuf, 2001).
Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Visi Pembangunan Pertanian ke depan
  2. Bagaimana masalah dan tantangan pertanian berkelanjutan
  3. Apakah keunggulan dan kelemahan pertanian organik
Tujuan
  1. Untuk mengetahui Visi Pembangunan Pertanian ke depan?
  2. Untuk mengetahui masalah dan tantangan pertanian berkelanjutan
  3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan pertanian organik
Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian adalah suatu proses yang menghasilkan terjadinya perubahan sosial (nilai/norma sosial, interaksi sosial, perilaku, lembaga sosial dan sebagainya) untuk mencapai pertumbuhan ekonomi (produksi, pendpatan dan kesejahteraan). Tujuan dari pembagunan pertanian, sebagaimana yang diamanatkan dalam garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri, memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan taraf hidp dan kesejahteraan masyarakat, mendukung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi serta pembangunan wilayah dan pedesaan (Anonim, 2003). Untuk mencapai tujuan tersebut maka terdapat syarat-syarat yang harus ada atau dipenuhi, syarat pokok yang harus dipenuhi antara lain; pasar produksi hasil-hasil pertanian, teknologi pertanian yang selalu berkembang, ketersediaan sarana produksi pertanian, insentif dan transportasi. Selain Syarat-syarat pokok maka dalam pembangunan pertanian juga dibutuhkan syarat-syarat pendukung meliputi : pendidikan pembangunan, kerja sama, reboisasi dan ekstensifikasi serta perencanaan pembanguan pertanian. Menurut Tjiptoheriyanto (2004) pelaksanaan pembangunan pertanian dapat diwujudkan melalui prinsip pembangunan partisipasif.
Berdasarkan pertimbangan pelaksanaan pembangunan pertanian di Indonesia pada saat ini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanian alternatif:
  1. Keragaman daur-ulang limbah organik dan pemanfaatannya untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
  2. Memadukan sumber daya organik dan anorganik pada sistem pertanian di lahan basah dan lahan kering.
  3. Mengemangkan sistem pertanian berwawasan konservasi di lahan basah dan lahan kering.
  4. Memanfaatkan bermacam-macam jenis limbah sebagai sumber nutrisi tanaman.
  5. Reklamasi dan rehabilitasi lahan dengan menerapkan konsep pertanian organik.
  6. Perubahan dari tanaman semusim menjadi tanaman keras di lahan kering harus dipadukan dengan pengembangan ternak, pengolahan minimum dan pengolahan residu pertanaman.
  7. Mempromosikan pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh pertanian untuk memperbaiki citra dan tujuan pertanian organik.
  8. Memanfaatkan kotoran ternak yang berasal dari unggas, babi, ayam, itik, kambing, dan kelinci sebagai sumber pakan ikan.
Pertanian Berwawasan Lingkungan
Pertanian berwawasan lingkungan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat tani dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk dan obat-obatan an-organik. Selain itu program juga mengarahkan kelompok dampingan untuk melakukan diversifikasi usaha berdasar potensi lokal yang ada di daerah pedesaan misalnya pengembangan sektor peternakan, perikanan, penyediaan pupuk dan pestisida organik secara mandiri, dan pengolahan hasil pertanian.
Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan di lingkungan pertanian dapat disebabkan karena penggunaan agrokimia (pupuk dan pestisida) yang tidak proporsional. Dampak negatif dari penggunaan agrokimia antara lain berupa pencemaran air, tanah, dan hasil pertanian, gangguan kesehatan petani, menurunnya keanekaragaman hayati, ketidak berdayaan petani dalam pengadaan bibit, pupuk kimia dan dalam menentukan komoditas yang akan ditanam.
Penggunaan pestisida yang berlebih dalam kurun yang panjang, akan berdampak pada kehidupan dan keberadaan musuh alami hama dan penyakit, dan juga berdampak pada kehidupan biota tanah. Hal ini menyebabkan terjadinya ledakan hama penyakit dan degradasi biota tanah.
Penggunaan pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan terjadinya kemerosotan kesuburan tanah karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain, dan semakin merosotnya kandungan bahan organik tanah. Bahan organik tanah disamping memberikan unsur hara tanaman yang lengkap juga akan memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah akan semakin remah. Namun jika penambahan bahan organik tidak diberikan dalam jangka panjang kesuburan fisiknya akan semakin menurun.
Pengelolaan pertanian yang berwawasan lingkungan dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan menguntungkan, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Pemilihan komoditas dan areal usaha yang cocok merupakan kunci dalam pelaksanaan pembangunan pertanian berkelanjutan, komoditas harus yang menguntungkan secara ekonomis, masyarakat sudah terbiasa membudidayakannya, dan dibudidayakan pada lahan yang tidak bermasalah dari segi teknis, ekologis dan menguntungkan secara ekonomis.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan, Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal yang ada di sekitar petani, seperti kotoran sapi, kambing, itik dan kompos atau sampah organik, dapat digunakan untuk mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Penggunaan mikro-organisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Termasuk juga pemanfaatan tanaman obat seperti cabe, kunyit, jahe, daun nimba, daun tembakau, serta bengkoang yang difungsikan sebagai agensi alami pembunuh hama dan penyakit, seperti gulma, serangga, tikus, dan jamur. Dengan adanya agensi hayati ini, penggunaan bahan pencemar berbahaya yang diakibatkan dari penggunaan pestisida, fungisida, dan insektisida yang berlebihan dapat diminimalisir.
Fakta mengungkapkan bahwa sistem pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan. Artinya, pelaku sistem pertanian organik ikut mendukung usaha pelestarian dan keberlanjutan komponen-komponen lingkungan, yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, mikroorganisme, dan tentunya manusia.
Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Sebagai Visi Pembangunan Pertanian Ke Depan

Pertanian masa depan dihadapkan pada perubahan yang mendasar akibat dinamika perekonomian global, perkembnaga teknologi biologis, berbagai kesepakatan internasional, tuntutan kualitas produk, isu lingkungan dan hak asasi manusia, hal itu akan memepengaruhi berbagai kebijakan pembangauan pertanian disemua negara termasuk indonesia untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul sebagai akibat perubahan-perubahan yang terjadi tersebut(Ariani, 2003).
Pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada sektor pertanian. Konsep pembangunan berkelanjutan mulai dirumuskan pada akhir tahun 1980’an sebagai respon terhadap strategi pembangunan sebelumnya yang terfokus pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi yang terbukti telah menimbulkan degradasi kapasitas produksi maupun kualitas lingkungan hidup.
Konsep pertama dirumuskan dalam bruntland report yang merupakan hasil kongres komisi dunia mengenai lingkungan dan pembangunan perserikatan bangsa-bangsa:“pembangunan berkelanjutan ialah pembangunan yang mewujudkan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk mewujudkan kebutuhan mereka” (wced, 1987).
Sejak akhir tahun 1980’an kajian dan diskusi untuk merumuskan konsep pembangunan bekelanjutan yang operasional dan diterima secara universal terus berlanjut. Pezzy (1992) mencatat, 27 definisi konsep berkelanjutan dan pembangunan bekelanjutan, dan tentunya masih ada banyak lagi yang luput dari catatan tersebut. Walau banyak variasi definisi pembangunan berkelanjutan, termasuk pertanian berkelanjutan, yang diterima secara luas ialah yang bertumpu pada tiga pilar: ekonomi, sosial, dan ekologi (munasinghe, 1993).
Paradigma pembangunan pertanian baru yang dapat mencapai tujuan itu adalah sebuah paradigma pembanguan pertanian yang melihat bahwa sebuah pembanguanan suatu negara adalah pembangunan yang mencerminkan kesejahteraan dari mayoritas penduduk negara itu. Untuk membuat paradigma itu dapat mencapai tujuannya maka diperlukan perubahan visi dan kebijaksaan dari pemerintah dan aparat pelaksana dalam memahami proses-proses yang hakiki dari suatu pembangunan pertanian. Paradigma pembanguan pertanian kedepan adalah pembangunan peranian berkelanjutan yang berada dalam lingkup pembangunan manusia. Menurut wibowo (2000) pembangunan pertanian harus didasarkan pada prinsip pembangunan berkelanjutan dengan visi : mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif melalui pembangunan pertanian yang selaras dengan alam.
Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan suatu proses pembangunan yang secara berkelanjutan mengoptimalkan manfaat dari sumber alam dan sumber daya manusia dengan ara menyerasikan aktivitas sesuai denga kemampuan sumber alam untuk menopangnya.
Keberhasilan pembangunan pertanian terletak pada keberlanjutan pembangunan pertanian itu sendiri. Konsepsi pembangunan pertanian berkelanjutan tersebut diterjemahkan ke dalam visi pembangunan pertanian jangka panjang yaitu “terwujudnya sistem pertanian industrial berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pertanian”.
Masalah Dan Tantangan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Paling sedikit ada tujuh tantangan (challenges) yang akan dihadapi dalam pembangunan pertanian mendatang.
  1. 1.    Membangun pemerintahan yang baik dan memposisikan pertanian sebagai sektor andalan perekonomian nasional
Cara penyelengaraan pemerintahan yang baik (good governance) sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan pertanian, yaitu : bersih (clean), berkemampuan (competent), memberikan hasil positif (credible) dan secara publik dapat dipertanggungjawabkan (accountable). Pembangunan pertanian akan berhasil jika diawali dengan cara penyelenggaraan pemerintahan yang baik, dimana pemerintah merupakan agen pembangunan yang sangat menentukan keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan.
Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana membangunan pemerintahan yang bersih, berkemampuan, berhasil dan dapat di pertanggung jawabkan. Disamping itu, politik pertanian kita masih lemah. Walaupun semua komponen bangsa menyadari akan pentingnnya sektor pertanian dalam memperkuat struktur perekonomian nasional, perhatian pemerintah dan elit politik belum sebesar peran sektor pertanian itu sendiri.
  1. Mewujudkan kemandirian pangan dalam tatanan perdagangan dunia yang bebas dan tidak adil
Kecukupan pangan merupakan masalah hidup dan matinya suatu bangsa, sehingga kemandirian pangan merupakan prioritas tujuan pembangunan pertanian. Tantangan ke depan yang dihadapi dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan adalah meningkatnya derajat globalisasi pergangan dunia yang tidak adil.
Sebagai anggota WTO, indonesia merupakan salah satu negara yang paling patuh menjalankan komitmen untuk mewujudkan perdagangan bebas. Indonesia sejak krisis ekonomi tahun 1998 telah mengurangi seluruh tarif bea masuk komoditi pertanian dan menghapus semua subsidi kepada petani, kecuali kebijakan harga dasar pembelian pemerintah untuk gabah/beras.
Namun banyak negara, khususnya negara maju, ternyata belum/tidak melaksanakan komitmen tersebut dengan baik, sehingga petani indonesia dihadapkan pada persaingan tidak adil dengan petani dari negara-negara lain yang dengan mudah mendapat perlindungan tarif dan non tarif serta subsidi langsung dan tidak langsung dari pemerintahnya. Serbuan impor beberapa komoditas pangan utama meningkat, seperti beras, gula, kedelai, jagung dan daging sapi.
Akibatnya komoditas pangan indonesia kalah bersaing dengan komoditas pangan negara lain. Kalau ini dibiarkan terus, maka keberlanjutan pertanian pangan akan tidak terjamin yang berarti jutaan petani pangan akan kehilangan mata pencaharian. Indonesia juga menghadapi permasalahan dalam negeri yang berkaitan dengan produksi pangan
  1. Mengurangi jumlah petani miskin, membangun basis bagi partisipasi petani, dan pemerataan hasil pembangunan
Krisis multi dimensi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menyebabkan jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 melonjak menjadi sekitar 32 juta orang (26%) di pedesaan dan sekitar 18 juta orang (22%) di perkotaan. Namun pada tahun 2002, jumlah tersebut telah menurun drastis menjadi sekitar 25 juta orang (21,1%) di pedesaan dan sekitar 13 juta orang (14,5%) di perkotaan. Dengan mengacu pada target tujuan pembangunan era milenium, maka pada tahun 2015 proporsi penduduk miskin akan menjadi 8,54 juta orang (7,15%) di pedesaan dan 4,52 juta orang (8,40%) di perkotaan. Oleh karena itu, selama periode 2002 – 2015, indonesia harus mampu mengurangi jumlah penduduk miskin sebesar 16,46 juta orang (13,94%) di pedesaan dan 8,48 juta orang (6,10%) di perkotaan. Apabila hal ini dikaitkan dengan fakta bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk di wilayah pedesaan bergantung pada sektor pertanian, maka hal ini berarti bahwa permasalahan kemiskinan sangat terkait dengan sektor pertanian.
Dalam kaitan itu, sektor pertanian berperan sangat strategis dalam pengentasan penduduk miskin di wilayah pedesaan karena sebagian besar penduduk miskin di wilayah pedesaan bergantung pada sektor tersebut. Dengan kata lain, sektor pertanian merupakan sektor yang sangat strategis untuk dijadikan sebagai instrumen dalam pengentasan penduduk miskin. Kemajuan sektor pertanian akan memberikan kontribusi besar dalam penurunan jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan. Demikian pula, basis bagi partisipasi petani untuk melakukan perencanaan dan pengawasan pembangunan pertanian harus dibangun sehingga petani mampu mengaktualisasikan kegiatan usahataninya secara optimal untuk menunjang pertumbuhan pendapatannya. Hasil-hasil pembangunan harus terdistribusi makin merata antar sektor, antar subsektor dalam sektor pertanian dan antar lapisan masyarakat agar tidak ada lagi lapisan masyarakat yang tertinggal dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan meningkat.
  1. Meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian
Pertumbuhan sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk mengakselerasi perekonomian pedesaan. Sektor pertanian indonesia, hingga saat ini masih sangat tergantung pada hasil primer, sehingga nilai tambah yang diperoleh masih rendah dan kurang kompetitif di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Ke depan, pemerintah harus dapat mendorong perkembangan produk pertanian olahan primer, selain untuk meningkatkan nilai tambah juga meningkatkan dan memperluas pangsa pasar di dalam dan luar negeri.
Negara berkembang Penghasil produk pertanian, saat ini banyak yang melakukan pengembangan Produk pertanian untuk mensiasati perdagangan dunia yang tidak adil. Apabila hal Dapat dilakukan maka sektor pertanian akan tumbuh lebih cepat dan tinggi lagi Dibandingkan dengan yang telah dicapai selama ini. Pertumbuhan sektor Pertanian yang makin cepat akan memacu pertumbuhan sektor-sektor lain secara Lebih cepat melalui kaitan ke belakang dan ke depan dalam kegiatan produksi dan Konsumsi. Dengan demikian, sektor pertanian akan lebih dikenal sebagai Pengganda tenaga kerja, dan bukan sekedar pencipta kesempatan kerja.
  1. Membangunan sistem agribisnis terkoordinatif
Struktur agribisnis kita saat ini dapat digolongkan sebagai tipe dispersal. Struktur agribisnis dispersal dicirikan oleh tiadanya hubungan organisasi fungsional diantara setiap tingkatan usaha. Jaringan agribisnis praktis hanya diikat dan dikoordinir oleh mekanisme pasar (harga). Hubungan diantara sesama pelaku agribisnis praktis bersifat tidak langsung dan impersonal. Dengan demikian setiap pelaku agribisnis hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan tidak menyadari bahwa mereka saling membutuhkan. Bahkan hubungan di antara pelaku agribisnis cenderung berkembang menjadi bersifat eksploitatif yang pada akhirnya menjurus ke kematian bersama. Lebih ironisnya lagi, pola agribisnis dispersal tersebut diperburuk pula oleh
Berkembangnya asosiasi pengusaha horizontal (usaha sejenis) yang bersifat asimetri dan cenderung berfungsi sebagai kartel. Sifat asimetri terlihat dari tiadanya asosiasi para pelaku agribisnis yang efektif di tingkat hulu (petani), seangkan asosiasi pelaku agribisnis di tingkat hilir (industri pengolahan, pedagang/eksportir) sangatlah kuat. Hal inilah yang membuat organisasi usaha dalam sektor agribisnis cenderung berperan sebagai sebuah kartel yang memiliki kekuatan monopsonistis maupun kekuatan monopolistik.
Kekuatan monopsonistis akan menekan harga yang diterima oleh petani, sedangkan kekuatan monopolistis akan meningkatkan harga yang dibayar konsumen. Dengan demikian, asosiasi pengusaha agribisnis horizontal di tingkat hilir yang mengarah pada kartel cenderung merugikan petani produsen maupun konsumen, tidak efisien, serta menurunkan produksi agregat (anti pertumbuhan). Tiadanya ikatan institusional, asosiasi pengusaha yang bersifat asimetri, kemampuan bisnis yang tidak berimbang (kutub hulu, yaitu petani, bersifat serba gurem; sedangkan kutub hilir, yaitu agroindustri dan eksportir, bersifat serba kuat) ditambah pula sifat intrinsik permintaan dan penawaran komoditi pertanian yang sangat tidak elastis membuat rantai vertikal agribisnis bersifat dualistik (bell and tai, 1969). Struktur agribisnis yang bersifat dualistik inilah yang menyebabkan munculnya masalah transmisi (pass through problems) dalam agribisnis (simatupang, 1995).
Dari segi transfer teknologi (modernisasi), struktur agribisnis dispersal juga tidak baik. Sesuai dengan relungnya (niche) pada rantai agribisnis, yang paling mengetahui dan akses terhadap perkembangan teknologi modern adalah kelompok agribisnis yang berada pada kutub hilir (eksportir/agroindustri). Kutub hulu (petani) berada di pedesaan sehingga kurang akses terhadap informasi maupun pasokan teknologi modern. Oleh karena itu, apabila struktur agribisnis vertikal tidak terkoordinir dengan baik maka modernisasi teknologi pertanian pun akan semakin lambat. Di samping itu, akan muncul pula dualisme kemajuan teknologi pada sektor agribisnis yang ditunjukkan oleh perbedaan tingkat kemajuan teknologi yang sangat kontras pada kedua kutub alur agribisnis vertikal:
Kutub hulu (petani) tetap menggunakan teknologi tradisional, sedangkan kutub hilir (agroindustri) telah menggunakan teknologi mutakhir. Secara singkat dapatlah disimpulkan bahwa struktur agribisnis dispersal tidak sesuai dengan kebutuhan modernisasi teknologi agribisnis, apalagi pada era bioteknologi mendatang, yang sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing.
  1. Melestarikan sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup
Permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi banyak berkaitan dengan penurunan kualitas lingkungan di wilayah hulu yang berakibat langsung pada kualitas lingkungan di wilayah hilir. Meningkatnya permintaan lahan akibat pertumbuhan penduduk selain menyebabkan penurunan luas baku lahan pertanian juga meningkatnya intensisitas usahatani di daerah aliran sungai (das) hulu. Penurunan luas baku lahan pertanian, khususnya lahan sawah, yang telah berlangsung sejak paruh kedua dekade 1980-an, saat ini cenderung makin besar seiring dengan peningkatan konversi ke non pertanian, khususnya di pulau jawa.
Pada beberapa tahun terakhir, luas baku lahan sawah di luar jawa juga telah mengalami penurunan. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan pangan juga meningkat.untuk memenuhi kebutuhan pangan telah dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian pangan. Salah satu dampak dari ekstensifikasi antara lain adalah penggundulan hutan. Luas hutan indonesia menurun dari 65% dari total daratan pada tahun 1985 menjadi hanya 47% pada tahun 2000. Di pulau jawa, konversi lahan sawah irigasi menjadi pemukiman dan tapak industri terus berlangsung dengan akselerasi yang meningkat. Dampak dari penggundulan hutan dan konversi lahan tersebut antara lain adalah berubahnya iklim secara global serta meningkatnya erosi, banjir dan kekeringan. Penurunan luas baku sawah di daerah hilir pada kondisi jumlah petani tetap bahkan bertambah telah mendorong peningkatan intensitas usahatani di daerah hulu yang berakibat pada penurunan kualitas das. Penurunan kualitas das menyebabkan efisiensi saluran irigasi menurun dan penurunan efsiensi ini makin cepat karena kurangnya pemeliharaan dan rehabilitasi sebagai akibat terbatasnya dana pemerintah.
  1. Membangun sistem iptek yang efisien
Permasalahan utama yang dihadapi indonesia berkaitan dengan pemanfaatan iptek pertanian adalah belum terbangunnya secara efisien sistem iptek pertanian mulai dari hulu (penelitian tinggi dan strategis) sampai hilir (pengkajian teknologi spesifik lokasi dan diseminasi penelitian kepada petani).
Efisiensi sistem iptek di sektor pertanian ini perlu dibangun melalui sinkronisasi program litbang pertanian mulai dari hulu sampai hilir dan sinkronisasi program litbang pertanian dengan lembaga penelitian lainnya. Selain itu, efisiensi sistem iptek pertanian ini perlu didukung dengan sistem pendidikan pertanian yang mampu menghasilkan peneliti yang berkemampuan (competent) dan produktif (credible). Juga perlu dibangun kembali sistem penyuluhan petani yang lebih efektif dan efisien.
Pertanian Organik
Pertanian organik pertama kali dilakukan oleh Jerome Irving Rodle (1898-1971) dari Emmaus, lehigh Country, ia sebagai pioner dibidang pertanian berkelanjutan dan pertanian organik di amerika serikat yang sangat serius dalam mempromosikan kesehatan dan gaya hidup yang bersandar pada pangan organik. JJ Rodale adalah orang pertama yang mempopulerkan terminologi pertanian organik.
Di Jepang konsep pertanian ramah lingkungan pertama kali di kemukakan oleh mokichi okada pada tahun 1930-an yag kemudian dikenal dengan sebutan Kyusei Nature Farming (knf).
Sedangkan di Indonesia ada 3 (tiga) fase perkembangan pertanian organik, yaitu :
  1. Fase para pionir pada tahun 1970-an
  2. Fase kedua pada tahun 1980-an
  3. Fase 2000-an
Pertanian organik adalah sistem peranian yang tidak menggunakan input sintetik (pupu dan pestisida) dalam proses produksinya, sehingga produk yang dihasilkan terbebas dari residu kimia yang dapat menbahayakan ubuh manusia yang mengkonsumsi produk tersebut (Nusril, 2001).
Pertanian merupakan salah satu kegiatan paling mendasar bagi manusia, karena semua orang perlu makan setiap hari. Nilai-nilai sejarah, budaya dan komunitas menyatu dalam pertanian. Prinsip-prinsip peranian organik menyangkut bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan hidup, berhubungan satu sama lain dan menentukan warisan untuk generasi mendatang.
  1. Prinsip Kesehatan
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan. Prinsip ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia.
Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan. Hal ini tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh, keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju sehat.
Peran pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di alam tanah hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan. Mengingat hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida, obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek merugikan kesehatan.
  1. Prinsip Ekologi
Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan.
Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan – bahan dan energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam.
Pertanian organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, pembangunan habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produk- produk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.
  1. Prinsip Keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama. Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain. Prinsip ini menekankan bahwa mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang dan konsumen.
Pertanian organik harus memberikan kualitas hidup yang baik bagi setiap orang yang terlibat, menyumbang bagi kedaulatan pangan dan pengurangan kemiskinan. Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan kecukupan dan ketersediaan pangan ataupun produk lainnya dengan kualitas yang baik.
Prinsip keadilan juga menekankan bahwa ternak harus dipelihara dalam kondisi dan habitat yang sesuai dengan sifat-sifat fisik, alamiah dan terjamin kesejahteraannya.
Sumber daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya.
  1. Prinsip Perlindungan
Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup. Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal maupun eksternal. Para pelaku pertanian organik didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya. Karenanya, teknologi baru dan metode – metode yang sudah ada perlu dikaji dan ditinjau ulang. Maka, harus ada penanganan atas pemahaman ekosistem dan pertanian yang tidak utuh.
Prinsip ini menyatakan bahwa pencegahan dan tanggung awab merupakan hal mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi di pertanian organik. lmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin bahwa pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkungan. Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidaklah cukup. Seiring waktu, pengalaman praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan tradisional menjadi solusi tepat. Pertanian organik harus mampu mencegah terjadinya resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika (genetic engineering). segala keputusan harus mempertimbangkan nilai – nilai dan kebutuhan dari semua aspek yang mungkin dapat terkena dampaknya, melalui proses – proses yang transparan dan artisipatif.
Pertanian Organik Sebagai Solusi Alternatif
Pertanian organik bukanlah suatu pertanian yang hanya menghasilkan produk yang sehat saja, melainkan sistem pertanian ini harus juga mampu mempertahankan sumber daya tanah, air dan udara agar dapat mendukung sistem pertanian dalam waktu yang tidak terbatas, karena itu sistem pertanin ini juga tidak bisa lepas dari aspek konservasi sehingga tujuan akhir berupa pertanian yang berkelanjutan akan terwujud (Yusuf, 2001).
Menurut Nusril (2001) dan Nugrahadi (2002), keunggulan dan keuntungan dari penerapan pertanian organik, anatara lain :
  1. Lebih mendukung Usahatani yang Berkelanjutan
Sistem pertanian di Indonesia tidak mungkin kembali kesistem alami pada keadaan penduduk berlimpah dan lahan sempit. Oleh karena itu diperlukan sisitem pertanian alternatif yang bersifat berkelanjutan dan akrab lingkungan. Salah satu alternatif tersebut adalah sisitem pertanian organik yang mengacu pada sisitem lam tetapi memerlukan bantuan bioteknologi. Prinsip sisitem ini adalah dengn meminimlisasikan masukan senyawa-senywa anorganik (pupuk, pestisida, herbisida).
  1. Penggunaan Input Luar yang Rendah
Peranian organik merupakan sisitem pertanian yang menghindarkan diri dari input yang begitu tinggi dan harus dapat berfungsi secara berkelanjutan (Munawar, 2003). Sisitem peranian organik mendorong proses biologis dalam penyediaan unsur hara tersedia dan ktahan terhadap serangan orgnisme pengganggu tanaman (OPT) dan pengelolaan secara langsung diarahkan kepada pencegahan masalah, dengn menstimulasikan proses-proses yag mendukung dalam penyediaan hara dan pengendalian hama penyakit.
  1. Perubahan Pola Konsumsi Manusia
Kesadaran manusia akan kesehatan makanan semakin tingi, beberapa negara seperti Singapura dan negara-negara Eropa serta Amerika, telah menentukan standar kesehatan produk-produk pertanian dengan tujuan melindungi konsumen dari produ-produk pertanian yang mengandung residu obat-obatan kimiawi yang digunakan oleh petani, pertanian organik nampaknya akan menjadi alternatif.
Perkembangan pasar organik di ndnesia sangat pesat, tercatat hingga akhir 2004, volume penjualan produk utama berupa beras, sayuran, buah kering, rempah-rempah, herbal dan kopi (Nurhayati. 2005).
  1. Menghasilkan Produk Makanan yang Sehat
Peranian organik saat ini merupakan salah satu alternatif makann yang sehat sebab dianggap tidak banyak mengandung hormon, obat-obaan, pestisida, dan pupuk sintesis. Dengan menggunakan pupuk dan pestisida organik, hal ini akan berdampak terhadap produk yang dihasilkan sehat dan relatif aman bagi manusia karena residunya mudah hilang (Kardiman, 2000).
  1. Adanya Dukungan Dari Lembaga Pemerintah Dan Swasta
Lembaga pemerintah yang berperan dalam pengembangan pertanian organik adalah departemen pertanian. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membentuk badan yang bertanggung jawab terhadap sertifikasi yang dilakukan oleh MAPORINA (masyarakat pertanian organik indonesia), serta badan lain yang ditunjuk oleh pemerintah, dengan tujuan agar produk pertanian organik mendapat kepercayaan dari masyarakat (Syekhfani,2004). Kegiatan ini juga ditunjang dengan program pemerintah : Go Organik 2010” oleh Departemen Pertanian. Selain lembaga pemerintah, pihak-pihak swasta juga ikut mendukung kegiatan ini, salah satu lembaga swasta tersebut, misalnya LPS yang merupakan salah satu lembaga yang melakukan kegiatan pengembngan pertanian organik.
  1. Ramah lingkungan
Sistem pertanian organik dilandaskan pada interaksi dinamis antara tanah, tanaman, binatang, manusia, ekosistem dan lingkungan. Sistem tersebut diarahkan kepada peningkatan siklus hidup alamiah ketimbang pemerasan atau penekanan terhadap alam. Sistem ini sangat mengandalkan sumber-sumber daya yang tersedia di wilayah setempat. Sistem pertanian ini dapat memberikan kontribusi terhadap masa depan dampak lingungan bagi kepentingan manusia (Dharmawan, dkk, 2002).
Pengembangan pertanian organik memilki dampak positif bagi petani dan juga pemerintah, namun dalam pengembangan pertanian organik tersebut memilki kendala-kendala yang dihadapi oleh pemerintah, swasta, bahkan petani itu sendiri, padahal pertanian organik merupakan solusi alternatif dalam pembangunan pertanian.
Menurut Yusuf (2001) beberapa kendala atau permasalahan dalam pengembangan pertanian organik antara lain :
  1. Rendahnya Kualitas Sumber Daya Manusia
Tingkat pendidikan petani masih sangat rendah hal ini dapat dilihat dengan persentase masyarakat yang mengejam pendidikan sebagai berikut : usaha tanaman pangan dilakukan oleh 81,72 % petani dimana SDM-nya 88,14 % tidak lulus SMA, 14 % petani tidak pernah sekolah dan 73 % hanya lulusan atau bahkan tidak tamat SD (Purwoko, 2004). Tingkat pendidikan masyarakat petani yang rendah akan berpengaruh terhadap pola pikir masyaratkat petani.
  1. Lahan Pertanian yang Dimiliki Relatif Sempit
Hasil sensus pertanian 1993 menunjukkan kondisi yang memprihatinkan karena lebih dari 10,5 juta (53 %) rumah tangga petani menguasai kurang dari 0,25 Ha. Sedangkan hasil penelitian PATANAS 2000 tentang penguasaan lahan lebih memprihatinkan lagi, terutama lahan sawah. Dipulau Jawa, sekitar 88% rumah tangga petani menguasai lahan sawah kurang dari 0,5 Ha dan sekitar 76 % mengauasai lahan sawah kurang dari 0,25 Ha. Sementara itu, di luar pulau Jawa kondisinya masih lebih baik dibandingkan di Jawa (Purwoko, 2004).
  1. Kebiasaan Petani Dalam Menggunakan Pestisida Dan Pupuk Kimia
Petani pada umumnya melakukan kegiatan pertanian secara konvensional yang dikelola secara tradisional. Petani tersebut sangat tergantung pada pupuk dan pestisda kimia dan melakukan kegiatan produksi pertaniannya (Sudiarso, 2004).  Keadaan seperti ini sangat sulit dirubah dan membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak. Serta melibatkan banyak pihak, baik swasta maupun pemerintah dan tentu saja masyarakat itu sendiri.
  1. Belum Ada Jaminan Pasar Atau Harga Khusus Untuk Produk Organik
Produk organik masih terasa berat untuk di konsumsi oleh konsumen. Konsumen tidak mengetahui berapa harga produk tersebut dan dimana konsumen bisa mendapatkan produk tersebut. Disamping juga adanya suatu pemikiran konsumen apakah berbahaya bila mengkonsumsi produk organik tersebut (Sudiarso, 2004)

Kesimpulan
Dimasa yang akan datang visi pembangunan pertanian indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif  melalui pembangunan pertanian yang selaras dengan alam. Masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pertanian berkelanjutan adalah membangun pemerintahan yang baik dan memposisikan pertanian sebagai sektor andalan perekonomian nasional, mewujudkan kemandirian pangan dalam tatanan perdagangan dunia yang bebas dan tidak adil, mengurangi jumlah petani miskin, membangun basis bagi partisipasi petani, dan pemerataan hasil pembangunan, meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian, membangunan sistem agribisnis terkoordinatif, melestarikan sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup, membangun sistem iptek yang efisien
Sebagai sulusi alternatif dalam pembangunan pertanian Indonesia terdapat keunggulan dan kelemahan dari sisitem pertanin organik yaitu lebih mendukung usahatani yang berkelanjutan, penggunaan input luar yang rendah, perubahan pola konsumsi manusia, menghasilkan produk makanan yang sehat, adanya dukungan dri lembaga pemerintah dan swasta, ramah lingkungan. Sedangkan kendala atau permasalahan dalam pengembangan pertanian organik adalah:  rendahnya kualitas sumber daya manusia, lahan pertanian yang dimiliki relatif sempit, kebiasaan petani dalam menggunakan pestisida dan pupuk kikmia, belum ada jaminan pasar atau harga khusus untuk produk organik.
Saran
Pertanian organik hendaknya dikembangkan dengan mengupayakan orientasi ekonomi dengan tidak terlepas dari hubungan yang selaras dengan alam agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani khususnya dan masyarakat indonesia umumnya
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih kita ucapkan kepada dosen pengasuh Mata Kuliah Penyajian Ilmiah  Bapak Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, M.Sc, yang telah memberikan arahan, petunjuk dan materi dasar untuk membuat tulisan ini. Semoga Allah, SWT, membalas semua kebaikan Bapak. Kemudian kepada teman-teman seperjuangan, terimakasih banyak atas saran dan masukannya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Proposal Kegiatan Seminar Nasional Dan Musyawarah Wilayah II Ke VI POBMASEPI. POBMASEPI. Jakarta.
Asriani, Putri Suci. 2003. Konsep Agribisnis dan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. “Prospek Pertanian Organik di Indonesia “, Juli 2002. Diakses pada 7 September 2012.
International Federation of Organic Agriculture Movements. “PRINSIP-PRINSIP PERTANIAN ORGANIK “. Diakses pada 23 Mei 2010.
Kardiman, Agus. 2000. Pestisida Nabati (Ramuan dan Aplikasi). Penebar Swadaya. Jakarta.
Munawar, M. 2003. Potensi, Peluang Dan Tantangan Pengembangan Pertanian Organik. Unsoed, Purwokerto.
Nugrahadi, EW. 2002. Pertanian Orgaik Sebagai Alternatif Teknologi Dalam Upaya Menghasilkan Produk Hijau. IPB. Bogor.
Nurhayati, Sri. 2005. Dukungan Pemerintah Terhadap Pertanian Organik  Masih Minim, Jakarta.
Nusril, 2001. Perspektif Pemasaran Dari Pembangaunan Pertanian Organik Di Propinsi Bengkulu. Makalah disampaikan pada pembekalan Program Semi Que III fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Juli 2001. Bengkulu.
Pezzy, j. 1992. Sustainable development concepts : an economics analysis. Environment paper no. 2. The world bank, washington, d.c.
Purwoko, Agus. 2004. Hand Out; Pengantar Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Seta, AK. 2001. Menuju Pertanian Organik. Makalah disampaikan pada Pembekalan Program Semi Que III Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Juli 2001. Bengkulu
Soetrisno, Loekman. 1998. Pertanian Pada Abad Ke-21. Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi dan Kebudayaan. Jakarta
Sudiarso, 2004. Pupuk Dan Pemupukan (prospek pengolahan limbah Organik sebagai pupuk). Makalah disampaikan pada pelatihan Dosen-dosen PTN-PTS se Indonesia, di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, 22-31 Mei 2004. Malang.
Syekhfani.2004Prospek Dan Permasalahan Sistem Pertanian Organik (SPO). Makalah disampaikan pada Pelatihan Dosen-dosen dosen PTN-PTS se Indonesia, di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, 22-31 Mei 2004. Malang.
Tjiptoheriyanto, Prijono, 2004, Pemberdayaan Petani Dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Pelatihan Dosen-dosen PTN-PTS se Indonesia, di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, 22-31 Mei 2004. Malang.
Yusuf, Fredi S. 2001. Membentuk Masyarakat Pertanian Organik Di Propinnsi Bengkulu. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Wced. 1987. Our common future : the bruntland report. Oxford university Press for the world commission on environment and development, new York.
Wibowo, Rudi. 2000. Perspektif Manajemen Pembangunan Pertanian Indonesia. Edisi No. I/IV/ Januari-Juni/20002000.Jurnal Agribisnis. Jakarta.


sumber :
FARIADI HERRI.2013.pertanian organik sebagai solusi alternatif dalam pembangunan pertanian yang berwawasan lingkungan.https://uwityangyoyo.wordpress.com/2013/01/25/pertanian-organik-sebagai-solusi-alternatif-dalam-pembangunan-pertanian-yang-berwawasan-lingkungan/

ANTRAKS

B. anthracis  adalah bakterium pertama yang ditunjukkan dapat menyebabkan penyakit. Hal ini diperlihatkan oleh Robert Koch pada tahun 1877...